Bila membahas tentang toko OEN, mau tidak mau kita harus kembali ke masa lalu, dimana toko OEN pertama kali didirikan di Jogja dan akhirnya membuka cabang di beberapa kota termasuk kota Malang…
Yogyakarta 1922
Seorang ibu rumah tangga yang aktif dan kreatif dan penuh semangat hidup kebingungan menghabiskan dirumah. Wanita itu bernama Liem Gien Nio. Menjadi seorang nyonya rumah dan istri dari seorang Tionghoa penakan yang berpangkat letnan dalam struktur pemerintahan colonial, menjadikannya memiliki banyak waktu luang.
Dengan keahlian masak yang dimiliki Nyonya Liem, Nyonya Liem mencoba membuat berbagai macam cookies dan mencoba menjualnya dalam pergaulan komunitas eksklusif golongan Belanda, China dan keluarga Jawa Ningrat, membuat Nyonya Liem dengan mudah mendapatkan pelanggan. Dalam waktu yang cukup singkat, Nyonya Liem mendirikan toko kecil di Tugu Kidul Jogjakarta dan menamakannya Toko Oen, sesuai dengan nama keluarga suaminya (Oen Tjoen Hok).
Karena rasa masakannya yang lezat dan unik membuat pelanggannya makin banyak dan usahanya makin berkembang. Dan nyonya Liem akhirnya menjadikan tokonya menjadi sebuah restoran, tempat nongkrong dan minum kopi.
Karena perkembangan usahanya yang sangat pesat, dan pelanggan yang dating dari luar kota dibukalah Toko Oen di beberapa kota antara lain Jakarta, Malang, Semarang dan Den Haag.
Malang 1934-1990
Tahun 1934 Nyonya Liem membuka cabang dari usahanya di Kota Malang. Terletak di kawasan tua Kayutangan dan menempati posisi yang strategis. Berdiri dengan nama Oen Restaurant ,Ice Cream Palace and Patissier. Sejak awal dibuka restoran ini sudah menjadi tempat favorit berkumpulnya orang-orang Belanda dan Eropa di Malang karena sjian makanan utama disini adalah menu spesial Belanda.
Pada tahun 1947 restoran ini digunakan untuk acara Kongres Komite Nasional Indonesia Pusta pada 25 Februari. Para peserta kongres se-Indonesia menjadikan Toko Oen sebagai tempat mangkal, makan siang dan minum disini. Toko inipun adalah salah satu bangunan bersejarah yang selamat dari aksi bumi hangus di Malang pada 29 Juli 1947
Malang 1991-2010
Tahun 1991 Restoran berganti kepemilikan, dan pemilik barupun tidak mengubah fungsi dari restoran ini. Tidak seperti Toko OEN di kota-kota besar lainnya Jakarta, Yogyakarta yang dirubah ke bentuk bangunan gaya modern serta komersil.
Hanya Toko OEN di Malang dan Semarang saja yang tetap bertahan dan berkomitmen meneruskan gaya kolonial bersejarah tersebut dan resep masakan yang dipertahankan.
Di Tahun 2010 Kota Malang sudah mengalami perkembangan dan kemajuan dalam pembangunan kota dan fasilitas yang sangat pesat… sehingga Kota yang dulunya dingin dan sejuk mulai berubah menjadi panas dan gerah. Tetapi Toko OEN tetaplah Toko OEN. Sebuah Restoran, CafĂ©, Ice Cream Palace dan Patissier. Walaupun sudah berganti kepemilikan, namun Pemilik baru tetap mempertahankan dan berkomitmen untuk tetap menjadikan Toko OEN sebuah restoran bergaya colonial dan mempertahankan segala hal yang dulu dipertahankan oleh pemilik asli (Nyonya Liem Gien Nio dan Tuan Oen Tjoen Hok).
Hingga Pemerintah Kota Malang menetapkan Toko OEN sebagai Cagar Budaya yang harus tetap dilestarikan. Supaya generasi mendatang bisa tetap menikmati suasana Tempo Dulu yang terdapat di dalam restoran ini… Dengan adanya ornamen-ornamen antik dan bersejarah seperti foto-foto Malang Tempo Dulu, Perabotan kuno yang terpajang di dalam Toko Oen, masakan, kue yang masih menggunakan resep dari sang pemilik asli dan tetap dipertahankan hingga saat ini, terutama eskrim yang masih original buatan tangan tanpa menggunakan bahan kimia sehingga membuat es krim terasa lebih enak dan lembut…
Yang menjadi menu utama Toko OEN adalah “Bistik Lidah Sapi ala Oen” dan eskrim Spesial Oen serta eskrim Tutti Frutty yang menggunakan berbagai macam buah-buahan sebagai bahannya… Dan masakan standart restoran Internasional lainnya seperti makanan China, Eropa dan Indonesia.